The Fed Warning Tarif Baru Donald Trump, Katakan Ini

Sedang Trending 18 jam yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, detikai.com - Pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed/Fed) buka bunyi soal tarif baru ke lebih dari 160-an negara dan area nan diterapkan Presiden Donald Trump. Bakal muncul ketidakpastian perdagangan nan dipicu oleh tarif tersebut, nan kemungkinan bakal meningkatkan akibat inflasi nan lebih tinggi dan pertumbuhan nan lebih lambat di AS, termasuk menimbulkan tantangan bagi kebijakan The Fed.

Sebagai bank sentral AS, The Fed mempunyai mandat dobel untuk mengatasi inflasi dan pengangguran. Saat ini tugasnya pun bertambah dengan tanggungjawab "memetakan jalan" di tengah ketidakpastian nan ditimbulkan oleh Trump pada hari Rabu, nan telah mengguncang pasar keuangan.

Padahal The Fed telah menargetkan inflasi 2% dan dengan pertumbuhan nan solid, semestinya pengangguran pun bakal rendah. Namun ancaman membayangi The Fed lantaran Trump dan membuatnya menghentikan pemotongan suku kembang dalam beberapa bulan terakhir.

Mengutip AFP, berbincang di Pennsylvania Kamis, personil majelis gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan perkiraan dasarnya tetap meramalkan pertumbuhan bakal melambat "cukup" tahun ini, dengan kenaikan inflasi dan perjuangan inflasi nan terhenti, sebagian lantaran tarif dan perubahan kebijakan lainnya. Meskipun ada kemungkinan bahwa gangguan dari tarif bisa jadi minimal, Cook mengatakan dalam pernyataan tertulisnya bahwa dia menempatkan "lebih banyak berat pada skenario di mana akibat condong ke sisi atas untuk inflasi dan ke sisi bawah untuk pertumbuhan".

"Skenario seperti itu, dengan inflasi awal nan lebih tinggi dan pertumbuhan nan lebih lambat, dapat menimbulkan tantangan bagi kebijakan moneter," tambahnya, menyinggung tantangan nan bakal dihadapi Fed, nan berupaya menurunkan inflasi tanpa kemudian memicu lonjakan nomor pengangguran, dikutip Jumat (4/4/2025).

Cook mengatakan dia juga memantau dengan jeli apakah lonjakan inflasi jangka pendek dapat memicu kenaikan nilai nan "lebih meluas". Apalagi tarif nan diterapkan Trump untuk baja dan aluminium telah meningkatkan nilai untuk input manufaktur tersebut.

"Ketika kenaikan biaya tersebut terjadi melalui proses manufaktur, kenaikan tersebut dapat meningkatkan nilai beragam peralatan dari waktu ke waktu," jelasnya.

Menggunakan industri kendaraan bermotor sebagai contoh, Cook mencatat bahwa pengaruh campuran dari tarif baja dan aluminium serta pungutan otomotif dapat memengaruhi nilai mobil baru. Ini berdampak pada nilai kendaraan jejak nan lebih tinggi.

"Dan, seperti nan terlihat dalam beberapa tahun terakhir, nilai kendaraan bermotor nan lebih tinggi dapat, dengan jarak waktu, meningkatkan biaya untuk jasa terkait, seperti sewa, asuransi, dan perbaikan mobil," katanya.

"Di tengah meningkatnya ketidakpastian dan akibat bagi kedua belah pihak dalam mandat dobel kita, saya percaya bakal tepat untuk mempertahankan suku kembang kebijakan pada level saat ini sembari terus memantau perkembangan nan dapat mengubah prospek," tambahnya.

Sebelumnya dalam laporan terbaru kemarin, JPMorgan meningkatkan perkiraan bakal resesi menjadi 60% dari sebelumnya 40%. Resesi adalah pelemahan ekonomi alias ekonomi negatif selama dua kuartal alias lebih dalam satu tahun.


(sef/sef)

Saksikan video di bawah ini:

Video:Trump Bikin Bank Sentral "Waspada", Nasib Rupiah-BI Rate Gimana?

Next Article Ramalan Gubernur BI: The Fed Bakal 2 Kali Pangkas Suku Bunga di 2025

Selengkapnya