Pasar Gembrong Sepi Pembeli, Gara-gara Toko Online?

Sedang Trending 23 jam yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta -

Sejumlah pedagang mainan di Pasar Gembrong mengaku omzetnya terkikis akibat kehadiran e-commerce alias toko online. Para pedagang apalagi terpaksa memotong keuntungannya kala pembeli membandingkan nilai jual konvensional dengan toko online.

Seorang pedagang pemilik Toko Mainan Pelangi di Pasar Gembrong, Ice (30) mengaku hanya mengambil untung 10% dari modal awal penjualan mainan kala pembeli sengaja membandingkan harga. Adapun biasanya, dia mengambil untung penjualan sebesar 20% dari modal awal penjualan mainan.

Ia mengatakan, toko online kerapkali menjual mainan di bawah nilai modal pegangan konvensional di Pasar Gembrong. Padahal, kata Ice, seringkali peralatan nan sampai tidak sesuai jika membeli mainan di toko online.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Misal modal Rp 150.000, di online cuman Rp 140.000. Padahal barangnya beda, gambarnya sama. Jadi banyakan orang tertipunya di gambarnya," kata Ice saat ditemui detikaicom di rukonya, Pasar Gembrong, Jakarta Timur, Rabu (2/4/2025).

Ice sendiri mengaku tak menjual mainannya di toko online. Pasalnya, dia cemas ada kerusakan pada mainan nan dikirim ke pembeli.

Imbas kehadiran toko online, Ice mengaku visitor Pasar Gembrong terus mengalami penurunan. Ia sendiri eksis berbisnis di letak tersebut sejak 2016 silam.

Ia berkisah, saat itu Pasar Gembrong menjadi tempat masyarakat mencari mainan anak. Setelah relokasi dan pandemi COVID-19, Ice menyebut visitor menurun seiring dengan banyaknya pedagang nan bangkrut.

Di hari biasa pada tahun-tahun sebelumnya, omzet Ice bisa menyentuh hingga Rp 8 juta dalam sepanjang Senin hingga Kamis. Kini, pendapatan Ice susut dalam kurun waktu nan sama menjadi Rp 1 juta hingga Rp 3 juta.

"Penjualan hari biasa sunyi banget. Segede ini toko kadang-kadang hanya sejuta (per hari)," jelasnya.

Ia menilai, perihal ini terjadi imbas pemerintah membuka perdagangan pasar bebas. Akibat pasar bebas ini, kata Ice, banyak pedagang asing nan mencatut nama pedagang lokal untuk menjual mainan di bawah nilai modal.

"Kadang kita jika ngomong pun susah juga ke Pemerintah. Kan sebenarnya dampaknya kan dari pemerintah juga nan bikin pasar bebas," ujar dia.

Ditemui terpisah, pemilik toko Komahkota Toys Alvi (30), tak menampik ancaman toko online terhadap penjualan di kiosnya. Menurutnya, toko online menjual jauh dari nilai modal nan dia keluarkan.

"Pengaruh juga dari online juga. Pengaruh lah. Kebanting. Harganya juga lebih jauh," jelas Alvi.

Bahkan pada momentum Lebaran 2025, Alvi mengatakan omzet penjualannya tak banyak berubah. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, omzet penjualan justru turun nyaris 50%.

Alvi berkisah, pendapatannya pada Lebaran tahun lampau mencapai Rp 15 juta per hari. Sementara saat ini, dia hanya mengantongi pendapatan dari penjualan sekitar Rp 8 juta per hari.

Sementara hari di luar seremoni Lebaran, Alvi mengaku penghasilannya Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Ia mengatakan, sepinya visitor terjadi sejak awal tahun 2025.

"Cuma kan kita kan, namanya mengontrak (sewa ruko) ya kan, nggak bisa lah gitu menyamakan dengan online," tutupnya.

(kil/kil)

Selengkapnya