ARTICLE AD BOX
detikai.com, Jakarta Indonesia dikenakan tarif jual beli sebesar 32 persen. Hal itu diumumkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Terkait perihal ini, Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Noudhy Valdryno mengatakan, Presiden Prabowo Subianto sudah sejak jauh-jauh hari sudah mempersiapkan tiga gebrakan besar untuk menghadapi beragam gejolak perubahan kebijakan dunia untuk bisa menjaga optimisme dan ketahanan ekonomi Indonesia.
Menurut dia, Presiden Prabowo apalagi sudah merancang beragam kebijakan strategis ini sejak hari pertama dilantik.
"Dalam menghadapi tantangan global, termasuk kebijakan tarif baru Amerika Serikat, Presiden Prabowo menunjukkan ketajaman memandang dinamika geopolitik. Pemahaman mendalam tentang hubungan internasional dan perdagangan dunia menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia," kata Noudhy dalam keterangannya, nan dikutip Jumat (4/4/2025).
Langkah pertama nan dimaksud adalah memperluas jaringan mitra jual beli Indonesia. Pada minggu pertama setelah dilantik, Presiden Prabowo mengusulkan keanggotaan Indonesia dalam BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), sebuah golongan ekonomi nan mencakup 40 persen perdagangan global.
Menurut Noudhy, langkah ini semakin memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional. Keanggotaan Indonesia di BRICS memperkuat beragam perjanjian jual beli multilateral.
Dia menjelaskan, Indonesia telah menandatangani perjanjian seperti RegionalComprehensive Economic Partnership (RCEP) dengan 10 negara ASEAN dan Australia, RRT, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru, nan mencakup 27 persen perdagangan global, serta aksesi ke Organisasi Kerja Sama danPembangunan Ekonomi (OECD) nan mencakup 64 persen perdagangan global, serta beberapa perjanjian jual beli lainnya CP-TPP, IEU-CEPA, dan I-EAEU CEPA.
"Selain beragam perjanjian jual beli multilateral, Indonesia juga mempunyai perjanjian jual beli bilateral dengan Korea, Jepang, Australia, Pakistan, Uni Emirat Arab, Iran, Chile, dan beragam negara lainnya, nan semakin memperkokohkan daya saing Indonesia di pasar internasional," klaim Noudhy.