ARTICLE AD BOX
Jakarta, detikai.com - 'Kiamat' batu bara di depan mata. Jumlah kapabilitas batu bara baru sekarang mencapai titik terendah dalam 20 tahun.
Hal ini terungkap dalam sebuah laporan baru Kamis (3/4/2025), sebagaimana dimuat AFP. Batu bara menyumbang lebih dari sepertiga produksi listrik dunia dan penghentiannya secara berjenjang sangat krusial untuk memenuhi tujuan perubahan iklim.
Dalam info Global Energy Monitor, hanya 44 gigawatt (GW) kapabilitas listrik batu bara baru nan diproduksi secara dunia tahun lalu. Angka ini terendah sejak 2004.
"Tahun lampau menjadi pertanda bakal datangnya batu bara seiring dengan berlanjutnya transisi daya bersih," kata Christine Shearer dari Global Energy Monitor, nan turut menulis laporan tersebut.
"Namun, kapabilitas baru tetap melampaui penutupan batu bara, nan berfaedah peningkatan bersih dalam armada batu bara global," catat laporan tersebut lagi.
Meski begitu penggunaannya di China dan India, tetap dominan. China memulai pembangunan sejumlah besar pembangkit listrik batu bara tahun lampau sedangkan India membikin proposal batu bara baru di 2024.
"Masih banyak pekerjaan nan kudu dilakukan untuk memastikan tenaga batu bara dihapuskan sesuai dengan perjanjian suasana Paris, khususnya di negara-negara terkaya di dunia," kata Shearer.
Indonesia Disebut
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan permintaan batu bara dunia bakal mencapai titik jenuh dari tahun 2024-2027. Penurunan penggunaan di negara-negara maju nan sebagian besar diimbangi oleh pertumbuhan di negara-negara berkembang.
Sektor kelistrikan China menyumbang sepertiga dari seluruh batu bara nan dikonsumsi di seluruh dunia, menurut IEA, menjadikan transisinya dari bahan bakar sebagai kunci tren global. Meskipun bangunan batu bara mencapai rekor tertinggi di China tahun lalu, izin baru di negara itu turun dari level sangat tinggi nan terlihat dua tahun sebelumnya.
"Dan di Asia Tenggara, tempat batu bara telah menggerakkan ekonomi berkembang seperti Indonesia, proposal baru untuk bahan bakar fosil telah menurun," tambahnya.
"Itu adalah hasil dari beragam kesepakatan dan janji di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam untuk menghentikan penggunaan batu bara," bunyi laporan itu lagi.
(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Nasib Batu Bara Saat Harga Anjlok - Rencana Kenaikan Royalti
Next Article Kemenangan Trump Diyakini Jadi Angin Segar Sektor Tambang & Migas